Tanggal Hari Ini : 22 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Muhammad Asmui Kammury, Usaha Waralaba Coffee Blend, Tea & Bubble Drink
Selasa, 09 Oktober 2012 09:50 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Bisnis sederhana, dengan produk-produk yang sederhana, ternyata kini membuat Muhammad Asmui Kammury (26) dapat menggapai mimpi dan keinginnya, sebagai pengusaha sukses. Awalnya, lulusan Diploma 2 PGSD Sekolah Tinggi Sekolah Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga ini tidak pernah membayangkan bahwa dirinya suatu saat mampu eksis sebagai pewirausaha. Cita-citanya tidak setinggi itu.

Anak kelima dari enam bersaudara pasangan Kammury dan Sofiah, petani dari Desa Susukan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang ini usai lulus SMA hanya ingin menjadi guru. Profesi terhormat yang banyak diminati anak-anak muda di kampungnya. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Salatiga. Ia ingin mengajar. Selepas lulus PGSD, menjadi guru dan melamar menjadi pegawai negeri pun ternyata tidak mudah. Ia sempat frustasi dan putus asa membayangkan masa depannya.

Karena ingin mengubah nasib, Asmui ingin hijrah, mencari pekerjaan, mengikuti jejak tetangganya yang telah merantau lebih awal ke Jakarta. Awal tahun 2006 ia menjejakkan kaki-nya di kota Metropolitan Jakarta. Di Jakarta, Asmui berharap memperoleh pekerjaan mudah. Namun pekerjaan itu tidak semudah yang dibayangkan. Ia akhirnya mencoba bekerja apa saja. Mula-mula ia menawarkan jasa les privat untuk anak-anak SD di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan secara door to door.. Namun hasilnya juga tidak sebanyak yang ia bayangkan.

Ia kemudian beralih usaha menjadi suplyer kerupuk yang mensuplay ke warteg-warteg di seputaran kawasan Ciputat, Lebak Bulus, hingga ke kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Sepanjang hari, dengan sepeda motor pinjaman dari bos ia menyusuri jalanan, mendatangi warteg satu demi satu untuk memasarkan kerupuknya. Usaha suplyer kerupuk tak mulus se-perti yang diinginkan. Banyak warteg-war-teg yang menunggak pembayaran, sementara ia kehabisan modal untuk memutar usaha.

Ia juga membuka usaha penjualan voucher pulsa, yang kala itu sedang booming. Ketika usahanya sudah mulai berjalan, dan memperoleh cukup penghasilan, Asmui memberanikan diri untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Ciputat, Jakarta. Ia kuliah sambil bekerja, harapannya satu, ia tidak ingin datang jauh-jauh ke Jakarta hanya sebagai kuli dan penjual kerupuk. Namun membagi waktu kuliah sambil bekerjapun tidak mudah. Saat awal-awal kuliahnya ia sering mendapat teguran dari dosen karena sering terlambat.

Ia benar-benar bingung, terus menyelesaikan kuliahnya, itu berarti ia harus tetap mencari uang untuk membiayainya. Dari Bekerja Menggunakan Otot Beralih Menggunakan Otak Bagaimana agar kuliahnya sukses dan usahanya juga sukses? Asmui mencoba memutar otak. Kali ini ia mencoba membuat usaha yang dekat dengan kampus agar saat kuliah tidak terlambat lagi. Mahasiswa Jurusan Akuntasi, Fakultas Ekonomi UIN Syarief Hidayatullah ini akhirnya awal tahun 2008 mencoba usaha es teh, dengan gerai yang sangat sederhana di kawasan kampus. Modal yang diperlukan saat itu sebuah gerobak kecil, dengan modal Rp3juta , yang merupakan uang tabungan dari hasil kerja sebelumnya.

Berjualan es teh di kampus ternyata memberikan hasil yang sangat menggembirakan. Ia yang awalnya menjaga sendiri usahanya sudah mulai dibantu tenaga penjual karena sangat ramai. Bahkan ia tidak menduga jika hasilnya sebesar itu. Bayangkan hanya dengan mo-dal membuat teh dan es, modal tak lebih dari Rp30ribu ini mampu menghasilkan omzet Rp400ribu hingga Rp600 ribu per hari. Gairah Asmui untuk menyelesaikan kuliah, dan ingin fokus dan cepat-cepat mengembangkan usahanya kian berkobar-kobar.

Tahun 2009, ia mencoba menawarkan usahanya yang prospektif melalui website www.waralabaKu.com dan www. www.javapuccino.com. Di luar dugaan ternyata peminat usaha yang ditawarkan melalui website tersebut membludak. Ia pun akhirnya mendiversifikasi produk, tidak hanya es teh, tetapi juga jenis minuman lain seperti coffe blend, dan bubble drink, dengan merek Javapuccino. Ia juga mendisain gerainya menjadi lebih modern. Kini Javapuccino sejak didirikan tahun 2008 hingga Januari 2011, jumlah gerainya telah mencapai 234 cabang. Hasil yang ia peroleh, ia mampu membeli rumah di Jakarta, mobil, memperbaiki rumah yang ada di kampungnya dengan hasil usahanya. Melalui usahanya pulalah, Januari 2011 lalu ia mampu menyelesaikan kesarjanaannya sebagai sarjana akuntasi dengan uang hasil sendiri.

Satu keinginan Asmui, ia ingin memiliki resto sendiri, yang menjual makanan dan aneka minuman buatannya. Ia ingin memberikan lapangan kerja kepada masyarakat yang membutuhkan agar pengangguran tidak ada di negeri ini

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari